Teknologi

Pengembangan Lahan Irigasi Rawa di Papua

Balai Teknik Irigasi > TEKNOLOGI > Teknologi > Pengembangan Lahan Irigasi Rawa di Papua

Pengembangan Lahan Irigasi Rawa di Papua

Kedaulatan pangan merupakan hal yang masih menjadi tantangan bagi bangsa Indonesia. Walaupun Indonesia disebut Negara agraris yang sebagian besar penduduknya adalah petani, namun pada kenyatannya masih banyak terdapat kekurangan pangan dibeberapa daerah dikarenakan semakin meningkatnya jumlah penduduk. Selama kurun waktu 1997-2001, produktivitas padi menurun 0,38 % per tahun, juga pada beberapa komoditas pangan (Badan Ketahanan Pangan, 2006 dalam Dewan Ketahanan Pangan, 2009). Sehingga kondisi ini harus dipenuhi dari impor. Hal ini merupakan kondisi yang tidak baik karena impor menguras banyak devisa serta tidak strategis bagi kepentingan ketahanan pangan nasional dalam jangka panjang (Dewan Ketahanan Pangan, 2009 ).

Kegiatan penelitian Pengembangan Lahan Irigasi Rawa di Papua bertujuan memperoleh lokasi potensial di Papua yang cocok untuk dikembangkan, terutama yang akan dilakukan adalah ekstensifikasi lahan pertanian.

Penelitian ini menghasilkan dua output kegiatan berupa :

  1. Model Sistem Satuan Lahan, Kesesuaian Lahan, dan Zona Pengelolaan Air pada Lokasi Terpilih
  2. Model Sistem Ketersediaan Air dari Sungai Digoel, Sungai Bian, Sungai Kumbe, dan Sungai Maro.

Pemilihan lokasi pilot 10.000 Ha di Distrik Tanah Miring, dengan pertimbangan Assesibilitas, Ketersediaan jaringan pasar dan harga, Kondisi tatanan dan keamanan, Ketersediaan jaringan listrik dan komunikasi, Lahan di perbatasan sekitar lokasi A sudah terbukti berhasil (tanah subur), dapat dilakukan mekanisasi pertanian;

Keseseuaian lahan pada lokasi terpilih 10.000 ha untuk tanaman padi yakni lahan S2 seluas 2.513,338 ha kategori baik, lahan S3 seluas 7.451,847 ha kategori cukup, dan lahan N seluas 30,6 ha kategori buruk.

Zona pengelolaan air yaitu : WMZ IV Drainasi Pompa Seluas 5.213,86 ha (52,8%). Zona Pengelolaan Air IV pada musim hujan harus menggunakan drainasi pompa karena merupakan dataran rendah dan mempunyai drainabilitas yang buruk sehingga tidak bisa membuang air dengan lancar secara gravitasi. Zona Pengelolaan Air WMZ VIII mengandalkan air hujan, untuk dapat menjadi 2 kali tanah diperlukan saluran-saluran dan pintu untuk mencegah air hujan terbuang ke hilir.

Berdasarkan hasil identifkasi potensi dan kendala di lokasi pilot 10.000 ha diperlukan desain drainase rinci perencanaan jenis dan operasi prasarana hidraulik dan bangunan pengendali air untuk dapat meningkatkan kualitas lahannya.

Leave a Reply