Teknologi

Konsep Pedoman Tata Cara Pengembangan Lahan Irigasi Rawa

Balai Teknik Irigasi > TEKNOLOGI > Teknologi > Konsep Pedoman Tata Cara Pengembangan Lahan Irigasi Rawa

Konsep Pedoman Tata Cara Pengembangan Lahan Irigasi Rawa

Ekstensifikasi Pertanian merupakan usaha perluasan daerah pertanian dengan cara pembukaan lahan baru untuk pertanian. Salah satu lahan potensial yang dapat dibuka adalah lahan rawa. Luas lahan rawa di Indonesia mencapai kurang lebih 33,4 juta ha, sedangkan luas potensial yang dapat diusahakan untuk usaha pertanian mencapai kurang lebih 10,2 juta ha (Alihamsyah, 2004). Usaha ekstensifikasi pertanian di lahan rawa belum didukung oleh ketersediaan referensi/ pedoman teknis perencananaan yang cukup. Konsep Pedoman in berisikan 3 Pedoman yaitu :

1. Konsep Pedoman Tata Cara Pengembangan Irigasi Lahan Rawa Pasang Surut.

Konsep Pedoman menetapkan tata cara pengembangan lahan irigasi mulai dari karakteristik lokasi survei, investigasi, desain dan sistem planning, dengan ruang lingkup pada hidrotopografi rawa pasang surut tipe A dan B. Konsep Pedoman ini memuat kriteria sistem tata air, kriteria desain saluran primer, sekunder, dan drainase, penentuan posisi intake dan outlet, serta ketentuan bangunan air lainnya.Konsep Pedoman ini juga mengulas hubungan kriteria desain dengan skenario pola tanam yang optimal di lahan irigasi rawa pasang surut.

2. Konsep Pedoman Perencanaan dan Perhitungan Long Storage dengan Sistem Aliran Gravitasi.

Pemanfaatan long storage sesungguhnya dapat menyesuaikan dengan potensi daerahnya. Daerah layanan yang lokasinya jauh dari sumber air seperti rawa lebak atau rawa pasang surut tipe C dan D, namun memiliki potensi curah hujan minimal 4.000 mm/tahun dapat menggunakan long storage dengan prinsip water harvesting atau tadah hujan.

Berdasarkan pilot project yang dilakukan Balai litbang Rawa pada tahun 2017 di Asmat, paras muka air dalam tampungan long storage dapat dinaikkan melebihi elevasi lahan dengan syarat dan perlakuan geoteknik tertentu, sehingga pengaliran dari tampungan ke daerah layanan dapat dilakukan secara gravitasi. Prinsip ini mengandalkan aliran yang dikendalikan pintu air.

3. Konsep Pedoman Perencanaan Jaringan Suplesi Air Tanah pada Lahan Rawa

Teknologi jaringan suplesi air tanah pada lahan rawa merupakan alternatif suplesi irigasi pada lahan rawa pasang surut tipe C dan D serta pada daerah rawa lebak. Air Tanah adalah kunci dalam penentuan lokasi penerapan teknologi ini, sehingga diperlukan studi geolistrik untuk menduga potensi air tanah yang ada di lokasi penerapan. Konsep Pedoman ini membuat perencanaan yang meliputi survei, investigasi, dan desain jaringan suplesi air tanah pada lahan rawa. Konsep pedoman ini disusun berdasarkan pilot project yang dikerjakan Balai Litbang Rawa pada tahun 2018 di Kabupaten Barito Kuala.

4. Basic Desain Infrastruktur Sumber Daya Air di Kabupaten Asmat

Basic  Design yang disusun meliputi tiga aspek proiritas, yaitu Kebutuhan Air Baku, Pengembangan Aksesibilitas antar wilayah, dan pengembangan Irigasi rawa.

Leave a Reply